kelebat pedestrian

October 10th, 2008

tentang empat pohon

Posted by mpokb in Uncategorized

Aku ingin mengajakmu menyusuri trotoar bernaung pohon randu. “Satu bak mobil mungkin hanya cukup untuk sebuah kasur,” kata si Bibi. Dulu, sewaktu langkah kakiku hanya sepanjang 30 sentimeter paling jauh, pohon randu terlihat bagaikan raksasa. Buah randu yang terbuka menerbangkan serat-serat putih yang menutupi lapangan rumput, bercampur dengan rontokan daun kering. Sekarang pun, pohon randu masih terlihat bagaikan raksasa. Tapi, serat-serat putih yang terjatuh tidak lagi sebanyak dulu, mungkin karena pohon termakan usia.

Aku ingin mengajakmu mengudap di bawah pohon tanjung. Di bawah pohon yang itu-itu saja, ratusan orang, bahkan mungkin ribuan, telah berkunjung di gerai kudapan yang sama. Dulu, sambil mengudap orang bisa menikmati hawa segar, kicau burung dan sesekali suara bising bemo yang lewat. Aku tidak tahu, dikemanakan bemo sekarang.

Aku ingin mengajakmu duduk-duduk di kaki pohon mahoni. Mengamati berbagai penjaja makanan yang lewat, yang di tempatku selalu disebut “tukang”. Tukang sayur, tukang peuyeum, tukang roti, tukang es, tukang susu, tukang daging. Ah, tapi sekarang tidak ada lagi orang berbelanja pada tukang daging, apalagi tukang minyak. Minyak tanah saja sudah langka.

Aku ingin mengajakmu memunguti buah rontokan pohon kenari, lalu kita akan bertanya-tanya bersama, bisakah kita membuka buah keras itu untuk memakan bijinya? Bagaimana pula rasanya? Aku tidak tahu, apakah memunguti buah kenari masih jadi sesuatu yang menarik. Yang aku tahu, buah kenari di pasar atau toko sudah semakin jarang. Rak-rak berisi bahan kue lebih sering menyediakan buah badam dari negeri seberang.

Pohon randu, pohon tanjung, pohon mahoni dan pohon kenari. Aku ingin mengajakmu, suatu hari nanti.

October 8th, 2008

menebus rindu sarapan

Posted by mpokb in Uncategorized

Perjalanan ke kantor hari ini jadi lebih cepat, hanya 1,5 jam, dari yang biasanya 2 - 2,5 jam. Itu pun sudah ditambah bus mengetem dan berjalan tersendat di jalan tol dalam kota Jakarta. Kabarnya, arus balik menghilir (?) belum mencapai puncak. Ada rasa lega bisa menikmati beberapa hari tanpa macet di jalan. Kenikmatan yang semakin kusyukuri karena pagi ini di rumah aku sempat sarapan. Semangkuk bubur gandum, tahu sutra dan kopi susu. Tidak perlu tergesa, jalanan masih kosong. Sarapan di rumah, bukan di kantor.

August 28th, 2008

Baranangsiang buat Berkubang

Posted by mpokb in Uncategorized

Kondisi Terminal Baranangsiang, Bogor, semakin menyedihkan. Padahal, pada tahun 1984 kabarnya terminal ini pernah menjadi yang terbaik di Asia. Sekarang, lapisan aspal di jalan sebelah dalam terminal sudah banyak yang mengelupas, bahkan sebagian menampakkan kerikil di bawahnya. Di saat panas, debu jadi beterbangan. Di saat hujan, akan terbentuk genangan. Menyambut tamu dari luar kota dengan terminal seperti ini sungguh tidak pantas. Lagi pula, bukankah infrastruktur yang layak merupakan hak warga pembayar pajak?

  

August 27th, 2008

"> Indoktrinasi   

Posted by mpokb in Uncategorized

Tak kusangka, sudah setua ini hidupku masih mengalami indoktrinasi. Semasa sekolah dan kuliah dulu, pikiranku diisi dengan Pancasila (anak sekolah sekarang konon banyak yang tidak hafal, apalagi paham maknanya), wawasan kebangsaan, dikasih penataran P4 100 jam juga. Entahlah bermanfaat atau tidak. Sekarang yang berperan mekanisme pasar bebas, jadi Pancasila sudah obsolet bagi sebagian orang.
Pagi ini ada indoktrinasi lagi dari pengamen bus ibu kota. Pengamen setiap hari boleh beda, tapi lagunya itu-itu saja. Ingin sih pakai earphone, tapi pasti tembus. “Ah, namanya juga cari makan,” begitu pasti kata banyak orang. Ya, urusan perut memang selalu bisa jadi pembenar dalam hidup bermasyarakat berkeadilan sok sial sekalipun.

August 25th, 2008

"> Seperti Judi   

Posted by mpokb in Uncategorized

Di Jabodetabek, Berangkat lebih pagi tidak menjamin kita tidak terlambat. Dari Bogor transit di UKI, mau naik bus kota tapi tidak ada. Harus jalan sekitar 200 meter, baru ketemu bus. Itu pun lebih sering untung-untungan, seperti judi. Mengurangi jejak karbon, tak semudah itu ternyata. Btw, salut juga pada Biden, senator mau jadi penglaju dengan kereta.

August 20th, 2008

Jobim di Bawah Jembatan

Posted by mpokb in Uncategorized

Teriakan kondektur bus dan raungan sepeda motor meningkahi jeritan klakson dan derap langkah kaki di lantai jembatan besi pedestrian. Dari balik jendela bus kota, sayup-sayup kudengar suara merdu biola. Tidak menyayat, tidak pula terlalu gembira. Aku sudah jarang mendengarkan musik, gitar pun aku lupa, namun aku tahu lagunya. Kubiarkan alunan nada menghanyutkan ingatanku mundur ke sembilan tahun lalu, ketika dunia masih terlalu hitam putih bagiku. Ada Marli, ada Dani, ada Sergio. Ada suatu sore di musim gugur yang sejuk dengan secangkir kopi panas, juga secarik kertas bertulisan lirik lagu tentang kebahagiaan menyambut tetes hujan pertama bulan Maret. Semua begitu indah, sederhana dan menyenangkan.

Sesosok pria bermantel panjang dan bertopi lebar terus menggesek biolanya di bawah jembatan pedestrian. Ini Jakarta, bukan Goettingen apalagi Rio, tapi aku mendengarkan Jobim.

August 15th, 2008

Layang-layang, Benang dan Angin

Posted by mpokb in Uncategorized

Layang-layang : akulah sang pengelana angkasa, indah megah mengundang decak kagum semua. tubuhku kuat menahan embusan agin nakal nan manja. aku suka angin, asal bukan angin ribut dan rewel. tanpa benang, aku hanya akan jadi layang-layang sekadar nama. akulah layang-layang, berpegang benang menunggang angin, berkelana ke penjuru angkasa.

Benang :  namaku benang, tugasku menahan layang-layang kabur terbawa angin. tanpa layang-layang, benang tetaplah benang, pendek maupun panjang. tanpa benang, layang-layang tidak bisa terbang.

Angin : panggil aku angin. panggil namaku ketika kamu ingin terbang, oh, layang-layang. angin akan selalu jadi angin, yang membelai mencumbumu habis-habisan, menerbangkanmu tanpa pernah bisa mengikatmu seperti benang.

August 14th, 2008

tragedi burung merah

Posted by mpokb in Uncategorized

Rasanya sudah tiga minggu burung merah itu tersungkur di sangkar. Sangkar di luar pagar depan Mapolda Metro Jaya, yang selalu ramai dilintasi pedestrian dan pengguna angkutan umum yang hendak berpindah moda. Aku tidak tahu sejak kapan persisnya bidang tanah di luar pagar Mapolda itu dilengkapi dengan sejumlah sangkar berisi burung dan ayam hias, juga tidak tahu kapan mereka diberi makan, juga tidak tahu kalau-kalau ada petugas khusus untuk merawat mereka.

Pernah kulihat seorang pengamen tak bergitar mendatangi salah satu sangkar berisi seekor burung merah, memanggil dan mengelus-elus paruhnya. Si burung tanpa ragu mendekat, mungkin kawan lama.

Dan minggu ini, dua minggu lebih setelah aku mengabarimu tentang si burung mati, belum ada seorang pun yang mengambil tubuh mungil merah yang kini sudah jadi bangkai. Posisi burung masih sama, tersungkur mencium lantai sangkarnya sendiri.

August 11th, 2008

Sopir A****g

Posted by mpokb in Uncategorized

“A****g!” maki seorang pengendara Honda City hitam ke arah bus kota yang memotong lintasannya. Bus yang seharusnya berjalan lurus untuk mengambil antrean masuk tol dalam kota di gerbang Cawang, memang sempat berlama-lama di lajur kiri untuk mengangkut limpahan penumpang yang berganti moda dari kereta api Jabotabek. Akibatnya, bus harus memotong lajur untuk tetap bisa masuk ke jalan tol. Hampir setiap hari, sepanjang hari, selalu begitu.

Di dalam bus, penumpang harus berdesakan karena bus yang beroperasi memang jarang, padahal mereka semua ‘mengejar waktu’. Sopir dan kondektur dicerca penumpang dan dikatai serakah, karena menjejalkan penumpang. Sopir dan kondektur dicaci pengemudi kendaraan lain, karena menyetir tidak tahu aturan. Sopir dan kondektur mungkin ditegur pengusaha angkutan kalau setoran kurang. Ongkos naik, setoran naik, tapi kondisi bus tetap tak laik.

Andai sistem setoran untuk angkutan umum diharamkan, niscaya sopir malas ugal-ugalan. Tidak ada lagi “sopir a****g”.

August 2nd, 2008

"> Hukuman untuk Koruptor   

Posted by mpokb in Uncategorized

Semakin sulit menikmati kebersihan kota. Sampah teronggok dan tercecer di mana-mana. Di trotoar, di jalan raya, di terminal. Entah ke mana uang retribusi dibayarkan, mungkin saja Dinas Kebersihan kekurangan uang untuk membayar pegawai. Warga terus membayar, tapi koruptor tidur-tiduran selama 5 tahun di hotel prodeo. Hukuman mati buat koruptor terlalu muluk. Hukuman kurungan bagi mereka bisa jadi bukan hukuman. Hukuman yang cocok buat sampah masyarakat seperti koruptor adalah memunguti sampah, membersihkan, menyapu, mengepel tempat umum tanpa gaji. Juga menguras toilet Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

« Previous PageNext Page »
  • Monthly

  • Meta

    • Subscribe to RSS feed
    • The latest comments to all posts in RSS
    • Subscribe to Atom feed
    • Powered by WordPress; state-of-the-art semantic personal publishing platform.
    • Firefox - Rediscover the web