kelebat pedestrian

February 24th, 2009

Rombongan Pengamen Dangdut

Posted by mpokb in Uncategorized

Malam itu kudengar keriuhan dendang lagu dangdut dari kejauhan. Kuayun langkah kakiku dengan santai, sembari menikmati tetes-tetes terakhir ujung gerimis. Payung sengaja kubiarkan terlipat agar tidak mengganggu jarak pandang, atau mungkin juga aku kangen disapa hujan. Gema lagu dangdut semakin dekat. Rupanya rombongan pengamen dengan gerobak, terdiri atas tiga atau empat orang. Penyanyi utamanya perempuan. Mereka berdiri di trotoar, sedikit masuk ke jalan, menghibur para pengunjung warung terbuka, tukang ojek, tukang parkir dan pelayan toko yang sedang bosan. Malam bisa saja kedinginan diguyur hujan, tetapi suasana di sekitar rombongan pengamen terasa hangat menyenangkan. Mereka berjoget, mereka ikut berdendang, mereka manggut-manggut dan terkekeh saling menertawakan gaya teman. Suasana seperti ini membuatku tidak pernah bosan berjalan kaki.

February 19th, 2009

Koperasi. Masih Ingat?

Posted by mpokb in Uncategorized

koperasi-1
Di tengah serbuan toko atau warung modern yang menggunakan sistem waralaba, masih ada toko yang merupakan “usaha berasas kekeluargaan”, yaitu koperasi. Cukup mengherankan bagiku, di Ibu Kota Jakarta, koperasi warga ternyata masih ada. Dulu, di Kelurahan Grogol, Jakarta Barat, ada sebuah koperasi warga yang cukup besar. Koperasi yang berlokasi di Jalan Muwardi 1 itu dinamai “Waserba”, singkatan dari “Warung Serba Ada”. Sayang sekali, menurut seorang sepupu, koperasi itu sekarang telah berubah menjadi toko waralaba.

Toko Koperia (Koperasi Warga Gandaria) di Jalan Radio Dalam ini mengingatkanku pada koperasi di Grogol itu. Dulu, Simbah yang pengurus koperasi suka mengajak para cucu berbelanja ke sana. Anak-anak yang belum paham beda koperasi dengan toko biasa, senang saja diajak jalan-jalan. Apalagi di sana banyak cemilan. Menakjubkan, karena yang kukenal di masa kecil hanyalah koperasi murid di sekolah dasar.

Koperasi tetap bertahan di lingkungan perusahaan, termasuk di tempat kerjaku. Tapi, baru tahun ini aku mendaftarkan diri sebagai anggota. Banyak yang mengira aku mau mengambil pinjaman, namun sedikit yang tahu bahwa bergabung ke dalam koperasi karyawan buatku adalah sebuah resolusi yang tertunda.

koperasi-2

February 11th, 2009

Bocor di Bus Kota

Posted by mpokb in Uncategorized

 jendelabocor.jpg

Dua pagi yang lalu, hujan deras mengguyur nyaris sepanjang perjalanan ke tempat kerja. Kondisi angkutan umum yang menyedihkan tidak bisa melindungi penumpang dari tetesan air hujan. Diserap tisu berlembar-lembar, genangan kecil tetap terbentuk di bingkai jendela. Bus kota bocor adalah pemandangan biasa. Tetap saja, ada rasa jengkel ketika basah menyapa pakaian.

Ongkos bus kota memang murah, bahkan kadang kupikir terlampau murah. Tetapi, kalau badan jadi sakit dan harus minum obat, tetap saja harus keluar uang ekstra. Aku tidak tahu berapa rata-rata usia bus kota di Jakarta. Seingatku, bus yang kunaiki ini sudah mondar-mandir di ibu kota sejak minimal 25 tahun yang lalu. Menyedihkan.

February 5th, 2009

Logam Pemicu Alarm

Posted by mpokb in Uncategorized

Detektor logam itu selalu berbunyi setiap kali kulewati saat masuk kantor pada pagi hari. Mbak petugas pemeriksa tas dan pak satuan pengamanan tidak pernah mengatakan, pemicu alarm berbunyi itu apa. Mereka selalu membiarkanku masuk, entah karena sudah tahu aku salah satu pekerja di dalam gedung, atau karena alasan lain. Memang ada satu dua petugas yang sudah hafal wajahku, tapi ada pula yang belum karena mereka pegawai outsource.Sewaktu alat itu baru difungsikan beberapa minggu lalu dan detektor logam berbunyi, pak satuan pengamanan akan mengatakan, “Mungkin bawa kunci, ya?” Atau, “Mungkin ponsel.” Lalu aku dibiarkan lewat begitu saja. Selama beberapa saat kukira penyebabnya jepit rambut berbahan logam. Namun ketika detektor logam tetap berbunyi meskipun rambut tidak berjepit logam, aku jadi bertanya-tanya. Jangan-jangan penyebabnya wired bra.

February 2nd, 2009

Antara Jalan Kaki dan Drainase

Posted by mpokb in Uncategorized

kaki-1.jpg

Berjalan kaki di musim hujan kurang menyenangkan. Drainase yang buruk membuat jalan raya tetap tergenang meskipun hujan sudah reda. Sandal atau sepatu jadi terendam, membuat kaki kedinginan dan badan masuk angin. Padahal, seharusnya pada saat-saat beginilah udara Jakarta bersahabat untuk berjalan kaki. Maksudku, bukan cuaca yang salah, melainkan kurangnya pepohonan yang menaungi pedestrian. Mungkin itu sebabnya orang Jakarta malas berjalan kaki kalau tidak terpaksa.

Beberapa waktu lalu, ada kasus penumpang motor tewas karena menghindari jalanan berlubang. Ini juga akibat drainase yang buruk. Memperbaiki jalan raya, menambal aspalnya, akan percuma jika genangan air tidak tersalurkan. Di sejumlah ruas jalan protokol dibuat lubang drainase tambahan di atas jalan. Penutup lubang membuat mobil yang lewat terguncang-guncang. Apa boleh buat, aman dahulu, nyaman kemudian.

Sekarang langit mendung lagi. Seharusnya nyaman untuk berjalan kaki. Asal tidak terciprat genangan air oleh kendaraan yang lewat maupun langkah kaki sendiri.   

  • Monthly

  • Meta

    • Subscribe to RSS feed
    • The latest comments to all posts in RSS
    • Subscribe to Atom feed
    • Powered by WordPress; state-of-the-art semantic personal publishing platform.
    • Firefox - Rediscover the web