tentang empat pohon
Aku ingin mengajakmu menyusuri trotoar bernaung pohon randu. “Satu bak mobil mungkin hanya cukup untuk sebuah kasur,” kata si Bibi. Dulu, sewaktu langkah kakiku hanya sepanjang 30 sentimeter paling jauh, pohon randu terlihat bagaikan raksasa. Buah randu yang terbuka menerbangkan serat-serat putih yang menutupi lapangan rumput, bercampur dengan rontokan daun kering. Sekarang pun, pohon randu masih terlihat bagaikan raksasa. Tapi, serat-serat putih yang terjatuh tidak lagi sebanyak dulu, mungkin karena pohon termakan usia.
Aku ingin mengajakmu mengudap di bawah pohon tanjung. Di bawah pohon yang itu-itu saja, ratusan orang, bahkan mungkin ribuan, telah berkunjung di gerai kudapan yang sama. Dulu, sambil mengudap orang bisa menikmati hawa segar, kicau burung dan sesekali suara bising bemo yang lewat. Aku tidak tahu, dikemanakan bemo sekarang.
Aku ingin mengajakmu duduk-duduk di kaki pohon mahoni. Mengamati berbagai penjaja makanan yang lewat, yang di tempatku selalu disebut “tukang”. Tukang sayur, tukang peuyeum, tukang roti, tukang es, tukang susu, tukang daging. Ah, tapi sekarang tidak ada lagi orang berbelanja pada tukang daging, apalagi tukang minyak. Minyak tanah saja sudah langka.
Aku ingin mengajakmu memunguti buah rontokan pohon kenari, lalu kita akan bertanya-tanya bersama, bisakah kita membuka buah keras itu untuk memakan bijinya? Bagaimana pula rasanya? Aku tidak tahu, apakah memunguti buah kenari masih jadi sesuatu yang menarik. Yang aku tahu, buah kenari di pasar atau toko sudah semakin jarang. Rak-rak berisi bahan kue lebih sering menyediakan buah badam dari negeri seberang.
Pohon randu, pohon tanjung, pohon mahoni dan pohon kenari. Aku ingin mengajakmu, suatu hari nanti.