Jobim di Bawah Jembatan
Teriakan kondektur bus dan raungan sepeda motor meningkahi jeritan klakson dan derap langkah kaki di lantai jembatan besi pedestrian. Dari balik jendela bus kota, sayup-sayup kudengar suara merdu biola. Tidak menyayat, tidak pula terlalu gembira. Aku sudah jarang mendengarkan musik, gitar pun aku lupa, namun aku tahu lagunya. Kubiarkan alunan nada menghanyutkan ingatanku mundur ke sembilan tahun lalu, ketika dunia masih terlalu hitam putih bagiku. Ada Marli, ada Dani, ada Sergio. Ada suatu sore di musim gugur yang sejuk dengan secangkir kopi panas, juga secarik kertas bertulisan lirik lagu tentang kebahagiaan menyambut tetes hujan pertama bulan Maret. Semua begitu indah, sederhana dan menyenangkan.
Sesosok pria bermantel panjang dan bertopi lebar terus menggesek biolanya di bawah jembatan pedestrian. Ini Jakarta, bukan Goettingen apalagi Rio, tapi aku mendengarkan Jobim.