kelebat pedestrian

April 16th, 2008

Lebih baik untuk pengamen

Posted by mpokb in Uncategorized

“Reseh amat sih, sudah penuh begini masih disuruh geser? Yang disuruh geser yang di sebelah saya, dong!” gerutu seorang gadis yang berdiri di lorong bus patas. Patas, singkatan dari “tempat terbatas”, sekarang sudah tidak punya arti apa-apa. Kejar setoran berarti, para awak bus harus menjejalkan penumpang. Juragan bus kota tidak mau tahu kalau-kalau setoran kurang. Aku tidak bisa menyalahkan awak bus. Malah kadang terbersit keinginan untuk membayar lebih dari tarif biasa, supaya mereka tidak perlu menyiksa penumpang karena harus kejar setoran. Masalahnya, awak bus kota bukanlah pengemis yang mengharapkan sedekah, apalagi ingin dikasihani. Aku juga tidak rela kalau uang itu akhirnya jatuh ke tangan juragan yang ingin dapat untung besar dengan ongkang-ongkang kaki. Lebih baik kuberikan pada pengamen yang pandai bernyanyi.

April 7th, 2008

"> Mencatat sekelebat   

Posted by mpokb in Uncategorized

Di dalam bus, di tengah kemacetan, seharusnya itulah waktu terbaik untuk mencatat kelebat pikiran. Kenyataannya, jalanan macet amat melelahkan. Kadang setelah log in ke blog, isi kepala turut menguap bersama aksi menguap sungguhan. Di waktu lain, kelebat pikiran bermunculan tanpa sempat tercatat. Kelebat yang ini muncul saat aku tengah duduk di toilet, keramas atau berjalan kaki.

  • Monthly

  • Meta

    • Subscribe to RSS feed
    • The latest comments to all posts in RSS
    • Subscribe to Atom feed
    • Powered by WordPress; state-of-the-art semantic personal publishing platform.
    • Firefox - Rediscover the web