teladan
Setiap orang, secara naluriah akan mencari teladan untuk dirinya. Baik itu orang tua, guru, atasan, teman, siapa saja. Bahkan orang yang tidak dia kenal sekalipun. Mengagumi, menggugu, meniru (guru kerap dianggap akronim digugu dan ditiru). Singkatnya, meneladani.
Sebenarnya, dalam diri orang yang kita teladani terletak harapan dan cita-cita kita sendiri, yang tanpa kita sadari merupakan beban bagi orang tersebut. Ketika orang yang kita teladani tidak bertindak atau berkata sesuai yang kita harapkan, biasanya kita kecewa dan marah. Menghakiminya telah gagal sebagai teladan.
Kata orang, kekecewaan itu tidak akan terlalu besar kalau kita tidak terlalu berharap dan menganggap si teladan adalah segala-galanya. Tanpa sadar, kita mengandalkan teladan untuk meninabobokan sosok anak kecil dalam diri kita, yang tidak bisa menerima kelemahan manusiawi. Kelemahan si teladan, serta kemalasan kita untuk beringsut dan tidak menjadi beban baginya.
Terus terang, aku pun sering malas beringsut.