pemantik api
Di dalam angkot itu kulihat seorang ayah memangku anaknya, di bangku yang paling dekat dengan pintu. Si anak yang berbaju hangat duduk setengah berdiri, menempel di lutut ayahnya. Ketika hampir tiba di tujuan, tangan kiri si ayah memeluk anaknya, sementara tangan kanannya mencari-cari uang di dompet. Tubuh si anak bergoyang-goyang mengikuti irama angkot. Kemudian angkot berhenti dan mereka berdua turun. Saat menunduk keluar dari angkot, sebuah pemantik api terjatuh dari saku kemeja si ayah. Tadinya aku ingin memberi tahu si ayah bahwa pemantik apinya jatuh, tapi urung. Aku diam saja. Dalam hati aku bertanya-tanya kalau-kalau aku bakal menyesal. Lalu angkot kembali berjalan melanjutkan perjalanan. Saat itulah aku sadar, aku tidak menyesal. Biarlah pemantik api itu tergeletak di aspal.