Got itu senantiasa dipenuhi sampah. Dedaunan, kayu, bungkusan makanan. Sudah setahun lebih, tidak ada yang membersihkan. Padahal warga kota bayar pajak. Padahal pemerintah kota punya Dinas Kebersihan. Padahal banjir terjadi antara lain karena sampah menyumbat jalannya air ke muara. Padahal kebersihan katanya sebagian dari iman. Ini masalah lama dan terus berulang. Di manakah sulitnya? Apakah karena rasa memiliki terhadap kota sedemikian tipis, hingga dibiarkan saja kotor dan tak terurus?
Serba Bayar
Di salah satu titik tepian Jalan Pakubuwono VI, Jakarta Selatan, kulihat sebuah papan mungil bertulisan cat biru yang dipakukan pada sebuah pohon. Bunyi tulisan itu “Tanya alamat, Rp 1.000,-”. Mungkin pemasangnya salah satu tukang ojek yang mangkal di mulut jalan di sebelah pohon rindang itu.
Pengetahuan tentang alamat dan tetenger kota di Jakarta adalah sesuatu yang amat berharga, terutama buat mereka yang baru datang di ibu kota. Bagi mereka yang paham info, inilah sumber rezeki yang tidak terduga. Ini bukan soal komersialisasi atau lunturnya nilai gotong-royong di sebuah negeri berpenduduk ramah. Ini Jakarta.
Boros Klakson
Kenapa harus boros klakson? Ada pejalan kaki hendak menyeberang di zebra cross malah diklakson, padahal jarak masih aman. Saat akan berbelok dan bertemu kendaraan lain yang sedang berjalan lurus di jalan itu, malah mengklakson minta jalan. Ada gerobak yang tidak bisa lewat di atas trotoar (karena tidak ada trotoar), klakson semakin keras. Benar-benar pengemudi cerewet, tidak beradab dan tidak tahu aturan. Banyak sekali pengemudi bertabiat seperti ini yang mudah mendapatkan SIM. Mengherankan. Jangankan berusaha bersikap sopan, mengetahui fungsi hierarki pemakai jalan pun enggan.
Tiga Orang di Dalam Lift
Tidak seorang pun dari tiga orang di dalam lift itu mau mengalah untuk jadi yang terakhir keluar. Ketiganya tersangkut bersama-sama di pintu lift. Pada akhirnya mereka malu, lalu tertawa bersama. Aku yang tengah menunggu mereka keluar untuk masuk ke lift, seakan mendapat tontonan slapstick singkat. Satu hal yang mengusik pikiran, apakah terlambat keluar lift selama barang satu atau dua detik sebegitu buruknya? Dan bukankah tersangkut di pintu lift malah memperlambat mereka?
Tenabang
Aslinya bernama Tanah Abang, tapi lidah warga Jakarta memelesetkannya jadi Tenabang. Tak kusangka, pasar yang terletak di kecamatan bernama sama di Jakarta Pusat ini luar biasa luas. Berjalan kaki menyusuri kaki lima penuh barang loakan sungguh mengasyikkan. Buku bekas, pakaian bekas, bercampur dengan barang-barang elektronik bekas yang siap dikanibal. Menjelang Sabtu siang nan terik, suara-suara optimistis lantang meneriakkan dagangan.
Aku berbaur dan berjalan terus memasuki lokasi pasar yang konon menjadi lokasi perputaran puluhan miliar rupiah per hari. Berebut jalan dengan truk sampah raksasa berwarna oranye yang berputar balik. Menghindari bajaj, terpaksa memberi jalan pada porter barang yang terus mendesak dari belakang. Oh, juga senggolan spion kiri sepeda motor yang mendadak muncul entah dari mana. Laptop di tangan kiri dan tas jinjing di tangan kanan mengurungkan niatku memotret suasana.
Deretan los yang seakan terbentang tak terhingga menjajakan seribu satu barang. “Cari apa, Kak? Ayo belanja,” seru para penunggu toko. Mereka yang kurang beruntung untuk bisa menyewa lapak, hanya berdiri sambil memegangi dagangannya. “Mari, Bu. Hanya sepuluh ribu.” Barang berpindah tangan, nyaris sambil lalu dan tanpa ritual semu. Semua berusaha. Semua bekerja. Ketika yang lain lesu darah, Tenabang terus berdinamika.
Sepatuku yang Malang
Sudah kuinjak-injak dirimu sepenuh tenaga saat bergegas mencegat bus kota, masih pula harus dikotori sampah permen karet berlumur air liur entah siapa. Penderitaanmu bertambah saat puntung rokok berbalut bakteri dari mulut entah siapa ikut menempel juga. Maafkan aku, Sepatuku yang malang. Jalanan Ibu Kota memang jauh dari nyaman bagi para pedestrian.
kelebat pedestrian
mencatat mencermat kelebat
menangkap meresap derap
insan-insan pedestrian
pelakon peradaban
Maling Berdasi
Menurut berita yang kubaca, seorang pejabat ditangkap di tepi jalan setelah terjadi serah terima uang suap di sebuah rumah makan. Kok aku belum pernah lihat maling berdasi ditangkap polisi selagi berjalan kaki, ya? Kalau copet atau maling biasa tertangkap basah, biasanya langsung digebuki beramai-ramai, bahkan dibakar. Di tengah-tengah orang susah, mereka dianggap bak kanibal, pemakan sesama. Tidak demikian halnya dengan maling berdasi. Sama-sama maling, tapi perlakuan terhadap mereka jauh berbeda. Aku tidak suka orang main hakim sendiri, namun sayang sekali hukum ternyata tidak sepenuhnya buta.
Rombongan Pengamen Dangdut
Malam itu kudengar keriuhan dendang lagu dangdut dari kejauhan. Kuayun langkah kakiku dengan santai, sembari menikmati tetes-tetes terakhir ujung gerimis. Payung sengaja kubiarkan terlipat agar tidak mengganggu jarak pandang, atau mungkin juga aku kangen disapa hujan. Gema lagu dangdut semakin dekat. Rupanya rombongan pengamen dengan gerobak, terdiri atas tiga atau empat orang. Penyanyi utamanya perempuan. Mereka berdiri di trotoar, sedikit masuk ke jalan, menghibur para pengunjung warung terbuka, tukang ojek, tukang parkir dan pelayan toko yang sedang bosan. Malam bisa saja kedinginan diguyur hujan, tetapi suasana di sekitar rombongan pengamen terasa hangat menyenangkan. Mereka berjoget, mereka ikut berdendang, mereka manggut-manggut dan terkekeh saling menertawakan gaya teman. Suasana seperti ini membuatku tidak pernah bosan berjalan kaki.

